Selasa, 31 Desember 2013

POTENSI BUAH KAWISTA

Kawista tumbuh merata di pantai jawa, bali, NTT/NTB. namun populasi kawista terbanyak memang hanya ada di kabupaten Rembang. buah ini menjadi identik dengan kabupaten di ujung timur laut jawa tengah. Tekstur kulit buah kasar berwarna kelabu-coklat. kawista ini tidak bisa dipanen kecuali lepas dari tangkai dan jatuh dengan sendirinya.

Kalau tempurung buah kawista dipecah, maka di bagian dalamnya akan tampak daging buah berupa pasta campur biji dan serat serta batas segmen buah. Warna pasta daging buah ini cokelat gelap, sepintas seperti daging buah yang sudah busuk. Aroma kawista sangat khas. Tidak ada buah dengan aroma seperti ini. Rasa kawista agak masam dengan sedikit manis. Pasta kawis ini bisa dikonsumsi segar. Caranya, daging buah dicampur gula merah atau gula pasir, langsung di dalam tempurung yang telah dipecah, kemudian diambil dengan sendok dan langsung dimakan. Bijinya bisa dibuang, bisa pula ikut dimakan, dengan cara dikunyah atau ditelan utuh. Buah kawista yang jatuh dan pecah, harus segera dikonsumsi, karena akan cepat rusah. Buah yang utuh bisa tahan sampai lebih dari 1 minggu dalam suhu kamar.
Selain dikonsumsi segar, daging buah kawis juga bisa dijadikan minuman. Caranya, daging buah itu diambil dari tempurungnya, dimasukkan ke dalam gelas dan dicampur gula pasir lalu diaduk-aduk. Sebaiknya didiamkan dulu sejenak, hingga gula diserap oleh daging buah. Setelah itu ditambahkan air dingindan es batu hingga es kawis siap dikonsumsi. Di Rembang juga sudah ada agroindustri sirup kawista, meskipun volume produksinya masih sangat terbatas. Karena terbatasnya volume produksi, sirup kawis ini tidak pernah sempat dipasarkan ke luar kota Rembang. Di India dan Srilanka, daging buah kawista diolah menjadi jam dan jely untuk berbagai keperluan. Antara lain sebagai pengoles roti tawar.
Kawista adalah tanaman pohon berkayu keras dan liat. Pertumbuhannya sangat lamban. Umur  5 tahun, tinggi tanaman baru sekitar 2 meter. Umur 15 tahun baru mulai berbuah. Tinggi tanaman bisa mencapai belasan meter, dengan diameter batang optimal sekitar 40 cm. Pohon kawista bisa mencapai umur ratusan tahun, seperti halnya pohon asam. Tajuknya rindang, dengan dahan dan ranting menjuntai, berduri lurus dan tajam, panjangnya sampai 4 cm. Kawista berdaun majemuk, berukuran panjang sampai 12 cm, bersirip ganjil dengan dengan anak daun berhadapan, 2-3 pasang. Daun berbentuk bundar telur sungsang, panjangnya sampai 4 cm, memiliki kelenjar minyak, dengan aroma lemah apabila diremas.
Penyebaran kawista ke seluruh kawasan Asia Tenggara, sudah terjadi sejak permulaan millenium I, bersamaan dengan penyebaran jati (Tectona grandis). Ketika itu kapal dagang India sudah datang ke Jawa untuk mencari rempah-rempah dan gula. Kadang-kadang tiang layar mereka rusak. Di Jawa tidak ada kayu, yang kualitasnya sama dengan kayu bahan tiang layar kapal mereka. Maka para pelaut India itu pun membawa benih kayu, untuk tiang layar itu, guna dibudidayakan di Jawa. Mereka juga membawa buah kawista sebagai bekal untuk minuman atau untuk dikonsumsi selama perjalanan. Para pelaut India itu mendarat pertamakali, di sekitar kota Rembang.
Itulah sebabnya, sampai sekarang, kawasan Mantingan di Kab. Rembang dikenal sebagai penghasil jati terbaik di dunia. Dan tanaman buah kawis juga hanya dijumpai dalam populasi banyak di kab. ini. Di kota “Kartini” ini, kawista banyak tumbuh liar di kebun-kebun penduduk, di halaman rumah atau di pinggir jalan desa. Hampir tidak pernah ada orang yang sengaja membudidayakan buah ini. Upaya untuk menyemai biji kawista juga lebih banyak gagalnya. Namun apabila biji itu dibuang di tanam kebun yang berpasir, tingkat pertumbuhannya akan tinggi. Kenggenan masyarakat untuk membudidayakan kawista, terutama disebabkan oleh lamanya umur berbuah, dan nilai ekonomisnya yang masih rendah.
di India, buah kawista biasa digunakan sebagai penguat lever, jantung, dan penurun panas. Di Indocina, duri kawista digunakan dalam ramuan tradisional untuk meredakan pendarahan berlebihan selama haid.

COLA VAN JAVA, begitulah nama sirup Kawista ini populer di kalangan masyarakat Internasional. Begitu dituang ke dalam segelas air akan muncul gelembung-gelembung layaknya minuman bersoda, dan ada sensasi mengigit di lidah serta gas yang menyelusup hidung ketika kita meminum sirup kawista ini, persis seperti ketika kita minum cola berkarbonasi. Sebenarnya, kawista memiliki nilai ekonomis yangbaik, apabila pemerintah daerah mempromosikannya dengan benar. Di rumah makan kecil namun cukup representatif di tengah kota Rembang, es buah kawista dihargai Rp 7.500,- per gelas. Sementara harga jus buah lainya, termasuk jus mangga, hanya berharga Rp 5.000,- dengan ukuran gelas yang sama. Harga sirup markisa, per botol (ukuran botol kecap), Rp 13.000,- Sirup ini hanya tersedia selama musim buah markisa. Pada bulan-bulan November sampai bulan Mei tahun berikutnya, sirup markisa tidak bisa diproduksi, dan stoknya juga habis. Dengan populasi pohon yang terbatas, buah dan sirup kawista bisa menjadi produk khas Rembang yang sangat eksklusif.
Sosok tanaman kawista, mulai dari bentuk batang, tajuk, tekstur dan warna kulit batang, bantuk daun, susunan ranting, semua menghadirkan keindahan yang sangat khas. Sosok tanaman kawista yang indah ini, memungkinkannya untuk dijadikan sebagai elemen taman. Meskipun, kawista tidak mungkin dijadikan sebagai tanaman penedih di pinggir jalan raya, lapangan parkir atau tempat umum lainnya. Sebab ketika musim buah, buahnya yang keras dan berjatuhan akan membahayakan mobil yang melintas atau sedang diparkir. Sebab ukuran buah yang cukup besar, dengan tempurungnya yang keras, akan potensial memecahkan kaca mobil.
Karena kawista sangat tahan kekeringan, maka tanaman ini juga potensial digunakan untuk menghijaukan lahan-lahan kritis di pantai dan dataran rendah. Pemerintah Kabupaten Rembang, sebenarnya sudah mengetahui potensi buah ini. Namun sampai sekarang belum ada upaya untuk memasalkan dan mempromosikan komoditas khas daerah mereka tersebut. Dinas pertanian setempat, juga belum tertarik untuk memproduksi benih kawista secara massal. Demikian pula dengan Dinas Pariwisatanya yang tidak terlalu antusias untuk mempromosikan buah khas daerah mereka ini dengan cara lebih profesional. Selama ini masyarakat luar kota Rembang, tahu  tentang kawista hanya dari mulut ke mulut saja. (Ahmad Nurfaid)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar