Minggu, 29 Juni 2014

SEJARAH FAKULTAS PETERNAKAN IPB

fakultas peternakan IPB
Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor yang dikenal sebagai FAPET-IPB, merupakan salah satu fakultas di Institut Pertanian Bogor dengan tugas melaksanakan pendidikan tinggi ilmu peternakan. Sejarah pendiriannya berawal dari pendirian Nederlandsch Indesche Veeartsen School di Bogor sebelum perang dunia ke II. Akan tetapi, selama pendudukan Jepang sekolah ini ditutup. Pada tahun 1946, Menteri Kemakmuran  Indonesia, atas nama pemerintah, membuka Perguruan Tinggi Kedokteran Hewan di Bogor yang merupakan pengembangan dari Nederlandsch Indesche Veeartsen School. Pada tahun 1948, Perguruan Tinggi tersebut dirubah namanya menjadi Faculteit voor Diergeneeskunde. Pada saat yang sama, di Bogor telah didirikan Faculteit voor Landbouw Wetenschappen yang terdiri dari dua jurusan yaitu Jurusan Pertanian dan Jurusan Kehutanan.

Secara organik, Faculteit voor Landbouw Wetenschappen dan Faculteit voor Diergeneeskunde bernaung   di bawah Universiteit van Indonesie. Universiteit van Indonesie kemudian diubah namanya menjadi Universitas Indonesia dan pada tahun 1950, Faculteit voor Landbouw Wetenschappen diubah namanya menjadi Fakultas Pertanian dan Faculteit voor Diergeneeskunde menjadi Fakultas Kedokteran Hewan. Pada saat itu, jurusan di Fakultas Pertanian ditata kembali menjadi Jurusan Sosial Ekonomi, Pengetahuan Alam dan Jurusan Kehutanan.

Titik awal pembentukan Fakultas Peternakan IPB terjadi antara 1950-1960, yaitu penyusulan pembentukan Lembaga Ilmu Ternak dan Lembaga Ilmu Makanan Ternak di dalam struktur Fakultas Kedokteran Hewan. Usul tersebut diajukan oleh Prof. Drs. Sutisno Djuned Pusponegoro (alm) salah seorang staf Fakultas Kedokteran Hewan. Usulan tersebut diterima dan dilanjutkan dengan pembentukan Lembaga Ilmu Ternak dan Lembaga Ilmu Makanan Ternak. Dr. Fisher ditunjuk sebagai ketua Lembaga Ilmu Makanan Ternak. Pada tahun 1960, dilakukan pengembangan Fakultas kedokteran Hewan menjadi Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan karena sejak tahun tersebut dibuka dua minat studi yaitu Minat Kesehatan Hewan dan Peternakan. Minat studi peternakan ini merupakan program akademik yang terkait dengan keilmuan yang diemban Lembaga Ilmu Ternak dan Lembaga Ilmu Makanan Ternak. Pada tahun 1962, Fakultas Kedokteran Hewan, Peternakan ini dikembangkan lagi menjadi Fakultas Kedokteran Hewan, Peternakan dan Perikanan Laut. Nama ini menggambarkan adanya tiga jurusan pada Fakultas tersebut, yaitu Jurusan Kedokteran Hewan, Peternakan dan Perikanan Laut.

Melalui Surat Keputusan Menteri PTIP Nomor 91 Tahun 1963 yang disahkan oleh Presiden RI Nomor 279 Tahun 1963, terhitung 1 September 1963, Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran Hewan, Peternakan dan Perikanan Laut dilepas dari Universitas Indonesia dan kedua fakultas tersebut direorganisasi menjadi Institut Pertanian Bogor (disingkat IPB). Pada saat itu diputuskan bahwa IPB terdiri dari lima fakultas, yaitu : Fakultas Pertanian, Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas Perikanan, Fakultas Peternakan dan Fakultas Kehutanan. Selanjutnya dibuka dua fakultas baru, yaitu Fakultas Teknologi Pertanian dan Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam dan paling baru Fakultas Ekologi Manusia. Hingga saat ini, IPB terdiri dari 9 fakultas. Dengan demikian, tanggal 1 september 1963 merupakan tanggal kelahiran Fakultas Peternakan IPB. Pada saat itu diputuskan bahwa kampus FAPET-IPB berlokasi di kampus IPB Jln. Gunung Gede (sekarang Jln. Raya Pajajaran) dan sebagai Dekan Pertama ditunjuk Prof. Dr. J. H. Hutasoit.

fapet.ipb.ac.id

AYAM KEDU

AYAM KEDU

    Ayam kedu merupakan jenis ayam lokal yang mempunyai karakteristik dan keunggulan tersendiri dibandingkan ayam lokal lainnya. Ayam kedu ini berasal dari daerah Karisidenan Kedu, Jawa Tengah tepatnya didaerah Temanggung dan sekitarnya. Jenis ayam kedu ada tiga macam, yaitu: kedu putih, kedu hitam (atau sering disebut dengan ayam cemani) dan campuran. Ketiga jenis ayam kedu tersebut dibedakan berdasarkan warna bulunya.

    Ayam Kedu putih populasinya sangat sedikit sedangkan ayam Kedu warna (campuran) populasinya sudah tidak terkontrol karena sudah bercampur dengan ayam lokal lainnya. Ayam Kedu hitam populasinya tidak diketahui secara pasti. Ayam Kedu Hitam yang seluruh tubuhnya berwarna hitam lebih dikenal sebagai ayam 'CEMANI', warna hitam pada seluruh ayam selain bulu juga menyebar mulai dari jengger, kulit muka, mata, paruh, kaki, cakar, kuku sampai ke rongga mulut dan lubang dubur (cloaca). Perbedaan antara ayam Kedu Hitam dan ayam Cemani adalah pada ayam Kedu Hitam sebaran warna hitam hanya pada bulunya saja, sedangkan pada ayam Cemani sebaran warna hitam menyebar keseluruh tubuh. Jadi ayam Cemani merupakan ayam Kedu hitam tetapi ayam kedu hitam belum tentu ayam Cemani. Diduga yam cemani ini didapat dari hasil perkawinan antar keluarga yang dekat hubungan kerabatnya dari beberapa generasi diikuti dengan seleksi kearah ayam yang berwarna hitam.

SEJARAH AYAM KEDU

    Asal usul ayam kedu hitam sampai saat ini belum dapat diketahui dengan pasti. Banyak versi yang beredar di masyarakat diantaranya versi MAKUKUHAN dan versi TJOKROMIHARJO. Versi MAKUKUHAN mengatakan bahwa ayam kedu ini pada berakhirnya kerajaan Majapahit dibawa kekerajaan Demak oleh Ki ageng Makukuhan, berkembang sampai ke daerah Kedu. Versi ini sudah melegenda di desa Kedu dan sekitarnya. Versi lain diperkenalkan oleh seorang masyarakat dari desa Kalikuto Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang bernama Tjokromiharjo. Tokoh ini merupakan Kepala Desa Kalikuto yang mencurahkan perhatiannya dibidang peternakan. Dilaporkan oleh majalah Minggu Pagi tanggal 7 Juni 1959, bahwa Pak Tjokro mendapat pengetahuan peternakan dari kursus-kursus yang diadakan oleh Dr. DOUWES DEKKER pada tahun 1919 di Bandung dan hasil korespondensinya dengan ahli perunggasan dari Colorado bernama Mr. Schelter.

    Versi pak Tjokro menceritakan bahwa ayam kedu asalnya bukan dari daerah Kedu. Ayam Kedu merupakan hasil persilangan dari beberapa generasi ayam dari Inggris yang dibawa oleh RAFLES dengan ayam lokal dari daerah Dieng, Jawa Tengah. Jenis ayam yang dibawa oleh Rafles tersebut diperkirakan ayam DORKING dan hasil keturunan dari hasil perkawinan tersebut menyebar sampai ke daerah Kedu dan sekitarnya.

    Nama ayam Kedu muncul pada tahun 1926, sebelumnya nama ayam Kedu adalah ayam hitam. Nama ayam hitam dikenal pada tahun 1924, pada waktu itu Pak Tjokro mengikutkan ayam hitamnya di Pekan Raya Surabaya dan mendapat hadiah utama. Pada tahun 1926 ayam hitam Pak Tjokro diikutkan lagi di Pekan Raya Semarang dan mendapat juara lagi. Karena banyak ayam hitam yang ikut pada lomba tersebut untuk membedakan ayam Pak Tjokro diberikan nama ayam hitam kedu sesuai daerah asal Pak Tjokro yaitu Karisidenan Kedu. Nama ayam hitam kedu disingkat menjadi ayam kedu.

    Ayam kedu merupakan salah satu kelompok ayam dari berbagai ternak unggas di Indonesia yang hidup dan berkembang di dalam wilayah Kedu Kabupaten Temanggung.Warna bulu ayam kedu sangat bervariasi dari putih, blorok, wido, abu, merah dan hitam namun terdapat kecenderungan peternak untuk mengembangkan hanya yang berwarna hitam polos atau hitam dengan sedikit warna merah tua didaerah leher dan punggung.

    Ayam kedu termasuk dalam tipe dwiguna, yaitu ayam yang dapat diambil manfaatnya berupa daging dan telurnya, bahkan kadang-kadang untuk hobi (biasanya ayam kedu hitam / cemani). Permasalahan yang dihadapi dalam perkembangan ternak ayam kedu adalah rendahnya produktivitas ayam kedu, sebagai akibat dari pengelolaan yang masih tradisional, sehingga upaya yang dilakukan adalah mengubah pengembangan ayam kedu dari pola tradisional menjadi berwawasan agribisnis. Untuk itu ada beberapa faktor pendukung yang perlu diperbaiki, yaitu mulai dari pengelolaan sarana produksi, teknologi yang tepat guna, dukungan permodalan, pasar serta peternak yang berwawasan bisnis. Ayam kedu merupakan salah satu jenis ayam buras yang telah populer sejak lama dan telah menyatu dengan kehidupan masyarakat petani di pedesaan. Ayam kedu dipelihara dengan berbagai tujuan dan manfaat antara lain sebagai penghasil daging dan telur, untuk menambah pendapatan serta sebagai hobi dan kesayangan (khususnya ayam cemani / kedu hitam).
Ada berbagai alasan yang mendorong masyarakat untuk membudidayakan ayam kedu, antara lain karena ayam kedu cepat berkembang baik, daging dan telurnya banyak disenangi konsumen sehingga tidak mengalami kesulitan dalam pemasarannya walaupun harganya relatif lebih mahal dari jenis unggas lain.
Manfaat langsung yang dapat diperoleh masyarakat petani dari usaha peternakan ayam kedu adalah 1) Dengan penjualan produknya (telur atau daging) akan diperoleh uang tunai yang dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari; 2) Dengan mengkonsumsi telur dan daging ayam lebih sering, maka pemenuhan gizi protein hewani menjadi meningkat dimana hal ini akan berpengaruh langsung pada kesehatan, kekuatan, pertumbuhan serta kecerdasan terutama pada anak-anak.

    Secara teknis, pengelolaan ayam kedu tidak terlalu menuntut penggunaan teknologi mutakhir, karena ayam kedu memiliki kelebihan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan, pakan mudah dan dapat memanfaatkan sisa-sisa hasil pertanian atau sisa-sisa dapur serta lebih tahan terhadap penyakit.
Dari sifat yang dimiliki dan peluang bisnis yang tinggi, maka ayam kedu sangat berpeluang untuk dikembangkan secara komersial. Upaya pengembangan ayam kedu perlu terus dilakukan dengan penerapan teknologi SAPTA USAHA (bibit, kandang, pakan, kesehatan, pengelolaan reproduksi, penanganan pasca panen dan manajemen). Sistem pemeliharaan ayam kedu dari pola tradisional menjadi berorientasi bisnis (pasar) harus melalui pendekatan sistem agribisnis secara utuh.

CIRI AYAM KEDU
Bentuk kepala bulat
Pial berwarna hitam atau merah
Mata hitam seperti bola,
Kaki pendek , leher pendek
Kulit putih sampai hitam
Bentuk badan besar kompak seperti ketupat

KARAKTERISTIK AYAM KEDU
Ayam kedu bila dibandingkan dengan ayam kampung lainya memiliki potensi produksi yang lebih baik namun sampai saat ini perkembangannya tidak menggembirakan bahkan bila tidak segera ditangani dikhawatirkan dapat mengalami kepunahan cara pemeliharaan ayam kedu tidak berbeda dengan budidaya ayam kampung lainya, ayam dilepas siang hari dan malamnya dikandangkan .
Peternak ayam kedu memelihara ayam dengan tujuan dimanfaatkan daging dan telurnya (dual porpose) Ayam kedu jantan dewasa bisa mempunyai berat 4 Kg dan ayam betina 3 Kg dengan rata-rata berat 1,5 - 2 Kg.
Ayam kedu betina bertelur pada umur 5 bl dengan berat rata 50-60 gram dan produksi telur kurang lebih 25 butir tiap periode.

INDOLIVESTOCK 2014

Inovasi teknologi dalam dunia peternakan semakin banyak dikembangkan oleh beberapa perusahaa serta pergurun tinggi. Berikut hasil resume kegiatan indolivestock 2014 yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center, Jakarta, pada tanggal 18-20 Juni 2014.

Institut Pertanian Bogor
Institut Pertanian Bogor menampilkan hasil inovasi dibidang peternakan dengan salah satu contoh inovasinya yaitu telur Omegha-DHA IPB. Telur tersebut merupakan produk premium yang ramah lingkungan serta bergizi tinggi untuk mencerdaskan balita dan anak karena mengandung antioksidan, DHA 10x lipat dan rendah kolesterol.


Universitas Airlangga
Universitas Airlangga memiliki stand yang memperlihatkan cara penyimpanan semen sapi dan proses pengambilan semen yang disajikan dengan menggunakan priyektor, sehingga pengunjung dapat melihatnya secara langsung. Universitas Airlangga memiliki fakultas kedokteran hewan yang mempelajari tentang ternak sapi gen,pakan ternak, serta produksi ternak.


Universitas Soedirman 

Pada kesempatan ini, Universitas Soedirman mengirimkan mahasiswa yang tergabung dalam ISMAPETI wilayah lll untuk menjadi perwakilan Universitas Soedirman dalam acara Indolivestock. Salah satu produk hasil inovasi yang telah dikembangkan adalah telur asin dengan rasa yang bervariasi, ada rasa jahe, rasa salmon, dll. Rasa tersebut didapatkan dengan cara pemberian sari rasa tersebut saat perendaman telur. 

PT Lunar Milking Machine
PT Lunar Milking Machine merupakan perusahaan dibidang perah yang menjadi distributor mesin perah dan olahan susu. Perusahaan ini menyediakan berbagai alat yang khususnya degunakan untuk proses pemerahan susu, antara lain alat perh, alat penyimpan susu, alat untuk mengolah susu pasteurisasi.

PT Melasty Milking
PT Melasty Milking bergerak dalam bidang distributor peralatan peternakan seperti alat pemerah susu sapi, alat pasteurisasi susu. Menurut seorang pegawai PT Melasty Milking yang kami wawancarai mengatakan bahwa peternak sapi perah di Indonesia dinilai sangat kurang jika dibandingkan dengan negara-negara seperti New-Zealand, Australia atau Belanda. Ketertinggalan Indonesia dalam hal peternakan perah alah satunya disebabkan oleh kurangnya produk alat pendukung yang digunakan dalam hal ini alat pemerah susu. Banyak peternak yang masih menggunakan tangan atau manual dalam proses pemerahan, sehingga produktivitas susu juga berkurang.

Sujaya Group
Sujaya Group merupakan persatuan dari beberapa perusahaan yang bergerak pada ternak unggas. Group ini bergerak dalam bidang manajemen pemeliharaan ayam pedaging, ayam petelur, dan vaksin yang bertujuan untuk meningkatkan produksi ayam petelur serta pedaging dengan hasil yang berkualitas.

Chore Time Brock Internasional
Chore Time Brock Internasional merupakan sebuah perusahaan dari USA yang memproduksi alat serta mesin pemberian pakan pada broiler, mesin untuk memberi minum pada broiler, dan mesin untuk menyalurkan serta penyimpanan pakan.

Guanzhou Guangxing Group
Guanzhou Guangxing Group merupakan sebuah group perusahaan dari cina yang bergerak dalam bidang ayam layer. Group ini membuatinovasi berupa alat-alat untuk memilih, mendistribusikan, dan menata telur supaya mendapatkan hasil telur yang berkualitas tinggi. Selain alat tersebut, terdapat juga alat-alat lain seperti kandang, tempat pakan, dan sistem pemeliharaan ayam.